Selamat datang

Selamat datang di Blog saya

Rabu, 10 Juli 2013

Aku dan Puasa...

Sejak umur 2 tahun, aku sudah di masukkan ke TPA (Taman Pembelajaran Al-Quran), sehingga ketika aku masuk SD, aku sudah membuka AlQuran, disaat teman-temanku yang lain masih membaca Iqro.
Diusiaku 6-7 tahun, aku masih dibolehkan puasa 1/2 hari, karena sekolah pun hanya seperti les, hanya 2 jam per hari, dan digilir pagi (7-9) dan siang (10-12), meskipun setelah itu aku mengikuti les renang dan TPA. Tapi lain halnya ketika usiaku mulai 8 tahun, aku harus puasa 1 hari full, dimana sekolah sudah mulai pulang jam 12 siang, dan kegiatanku mulai bertambah dengan les Bahasa Inggris dan TPA, serta membagikan brosur ke rumah-rumah. Ya, saat itu aku kelas 3 SD, dan sudah diajarkan untuk berjualan rambutan, terik matahari tak boleh membuatku lemah. Karena dengan hasil itu, kami bisa pulang kampung ke tempat Ayahku dilahirkan. Dan kami bekerja keras, sampai akhirnya uang yang didapatkan lumayan dan bisa buat kami pulkan (alias pulang kampung). Walaupun akhirnya aku batal 5 hari karena tak kuat.
Memasuki usia 9 tahun,dan duduk dibangku kelas 4, kegiatanku semakin bertambah. Sekolah baru kelar jam 1/2 3 sore, kemudian aku mengikuti beberapa les, seperti les bimbel, les bahasa inggris, dan les menggambar, dan tetap TPA. Tapi alhamdulillah, aku sudah bisa puasa penuh dan tak ada yang batal. Dan itu aku lakukan hingga aku duduk di bangku kelas 6 SD. Meskipun TPA ku sudah usai sewaktu aku duduk di kelas 5 SD dengan mengikuti test di Masjid terbesar di Indonesia, yakni masjid Istiqlal, yang kemudian diberi ijasah dan diwisuda, sudah seperti anak kuliahan saja di wisuda segala.
Kelas 1 SMP, kegiatanku mulai berkurang. Aku sudah tak lagi ikut TPA dan les menggambar, karena sekolahku masuk siang, yakni jam 12 hingga jam 1/2 6 sore. Sehingga tak ada waktu untuk itu, yang aku ikuti hanya les bimbel dan Bahasa Inggris di waktu pagi, yang membuatku mengikuti test kompetisi Bahasa Inggris saat kelas 1, meskipun tak menang, tapi masih ada di posisi yang lumayan lah dari 100 orang. Yang aku menangin malah lomba basket antar kelas, padahal aku bukan pemain inti, dan tak pernah ikut klub basket, hanya senang main bersama Kakak-kakakku dulu. Soal puasaku saat SMP, sebagai wanita yang beranjak remaja, aku mengalami yang namanya menstruasi, sehingga tak bisa full 1 bulan penuh, pasti ada saja yang bolong. Dan yang aku ingat, puasa saat itu aku liburan selama 1 bulan, yang akhirnya mengikuti ayahku yang dinas di tempat kelahirannya. Itung2 pulang kampung duluan... Dan disanalah aku diajari menyetir mobil tiap selesai sholat Subuh berjamaah, kita ke pantai dan latihan disana. Tapi yang sangat aku ingat dan tak kan ku lupa adalah ketika kami (aku,Papa,Mama, dan seorang teman papa bersrta anaknya yg seusiaku) pergi ke Surabaya dengan naik kerata api. Dari Tegal kami menuju kesana tanpa dapat bangku, alias duduk dibawah, dengan orang seliweran yang berjualan. Akhirnya kami sahur dengan roti dan air apa adanya. Akhirnya sampai juga i Surabaya,dengan keadaan lelah,panas, dan banyaknya orang berjualan es dipinggir jalan dan orang yg membelinya tak tahu malu, aku tetap menjalankan puasaku, hingga akhirnya kami kembali ke Tegal dengan keadaan kereta yang sama, tapi untungnya sudah malam. Kelas 2 SMP, aku yang sudah terbiasa sejak kecil jarang bersama papa. Saat aku duduk di bangku kelas 2 SD, Papa sedang Pandidikan di Magelang, sehingga hanya mengirimkan surat. Saat kelas 3 dan seterusnya, meskipun 1 rumah, tapi jarang bertemu, karena papa berangkat pagi,dan pulang larut malam. Dan ketika kelas 6 SD, Papa dipindah tugaskan ke Tegal, yang membuaku bisa bersamanya hanya ketika liburan puasa yang full 1bulan. Lalu saat aku kelas 2 SMP, aku menemukan teman-teman yang baik, dan aku terus menjalankan puasa sunah Senin-Kamis, Papa dipindahkan semakin jauh ke Sulawesi Tenggara, yang membuatku harus mengikutinya dan meninggalkan semuanya di Jakarta. Tapi ternyata, saat di SulTra, aku mendapatkan teman yang lebih banyak layaknya keluarga, dan aku mengikuti PORDA (Pekan Olahraga Daerah) sebagai atlet renang. Lumayanlah, hasil les waktu kelas 2 SD, kepakai juga waktu SMP, meskipun ga juara, beda beberapa detik sama yg juara 3, padahal sudah tinggal dikit lagi, namun ya sudahlah, nasib... Dan ga lama dari itu adalah puasa.Sayang, puasa tak ditemani Papa-Mama, yang harus ke Jakarta menengok Kakak-kakakku, sementara aku harus tetap sekolah, jadi aku harus menyuruh temanku nyamperin ketika mau sholat terawih, dan terkadang menyuruhnya menginap dirumahku. Hinggal lulus kelas 3 SMP, dan mendapat rangking 1 disana, aku ingin kembali ke Jakarta bersama Kakak-kakakku. Sayang, rangking tak berpengaruh untuk masuk ke SMA favoritku, padahal kalau aku tak pindah saat itu, aku bisa masuk sekolah favoritku di Jakarta, atau tetap masuk sekolah favorit di Kendari. Tapi semua itu sudah telat, dan akhirnya aku hanya bisa bersekolah di SMA swasta yang tak terkenal, tapi disana aku bisa rangking 1, dan kemudian dipindahkan ke sekolah favoritku dulu. Saat itu alhamdulillah, Papa-Mama naik haji, yang membuatku ingin jadi lebih baik lagi. Kenaikan kelas 2, aku menemukan sahabat yang imut dan cantik, yang umroh bersama Ibunya saat kami liburan perpisahan kelas 2. Dan dia yang pertama memakai jilbab di kelas kami. Naik kelas 3, sahabatku semakin banyak, dan satu persatu mulai berhijab. Kami juga sering saling mengingatkan untuk puasa sunah dan sholat berjamaah bersama. Hingga akhirnya akupun tergerak untuk mengikuti jejak mereka,yakni berhijab. Akhirnya luluslah aku dari sekolahku... Dan masuk perguruan tinggi swasta di Depok, cari yang dekat rumah... Yang kemudian bersahabat dengan 5 lelaki, yang 4 diantaranya yang membantuku unuk mendekatkan diri pada-Nya. Ya, kami saling mengingatkan untuk sholat, dan terkadang saat aku menjalankan puasa sunah, mereka tetap mengajakku untuk bergabung, agar tak lupa untuk sholat. Sayang, persahabatan kami diputus ketika naik ke kelas yang selanjutnya. Karena sistem di kampusku adalah 2 semester 1 kelas, jadi ada kelas 1-4. Dari kelima sahabatku itu hanya 1 orang yang selalu 1 kelas bersamaku, dan iya memanggilku Mama angkat, sedang aku mamanggilnya Mas, karena kita sudah seperti keluarga. Dan puasa kami alhamdulillah selalu berjalan lancar, dan kadang buka bersama...
Hubunganku dengan teman-temanku dari SD,SMP,SMA,kuliah, bahkan kerja masih baik, dan kami mengadakan buka puasa bareng sekalian reuni. Dan dari situ pula aku menemukan jodohku. Insyaallah... Amin... Jadi, jangan pernah tinggalkan puasa, karena puasa melatih kita untuk sabar dalam menjalani hidup, dan untuk bersyukur atas semua nikmat Allah SWT. 

Jumat, 31 Mei 2013

Pelangi di kala Hujan

Kala itu hujan turun dengan derasnya...
Hujan yang biasanyanya kita nyanyikan sewaktu kecil "Tik Tik Tik bunyi hujan diatas genting", berubah menjadi kilat dan dentaman petir yang mengerikan. "Ctar Ctar membahana" kata Syahrini...
Dari dalam rumah, aku hanya diam menyaksikan itu semua sambil berkata dalam hati "seramnya".

Kemudian ketakutan ku semakin bertambah ketika aku tersadar berada dalam rumah yang besar dan sendirian. Ingin ku berlari keluar, bermain bersama para hewan, mungkin itu bisa menenangkanku, tapi belum sempat ku membuka pintu, "ctar" kilatan itu tepat berada di depanku, yang membuatku mengurungkan niatku. Aku kembali kedalam dan mencoba tenang.

Ku buka kamar, merebahkan badan dan ku nyalakan radio, terdengar lagu-lagu romantis. Ku buka buku cerita yang bisa membuatku tenang sambil mendengarkan lagu-lagu indah itu dan sesekali mengikutinya. Lalu kulihat sekeliling dan melihat gambar wajahnya yang tersenyum duduk di sampingku, yang membuat ku ikut tersenyum melihatnya.

Memikirkannya malah membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Ku mencoba untuk memejamkan mata dan berharap hujan cepat berhenti dan seseorang cepat pulang untuk menemaniku. Nyatanya hujan tak berhenti-berhenti, namun petirnya sudah mulai berkurang. Aku sudah bisa agak tenang, dan keluar untuk memberikan makan hewan peliharaanku.

Saat ku beranjak, terdengar "tok-tok tok"... Ku pikir wah hujan sudah reda, bisa dengar suara "tik-tik-tik" lagi. Tapi suara itu terdengar lagi "tok-tok-tok". Ku berlari menuju pintu dan membukanya. Senyum di wajahnya masih sama seperti yang ku lihat, tapi kali ini ia dalam balutan baju yang basah. "Ayo masuk". Kemudian ku ambilkan handuk dan baju untuk ia ganti, dan ku buatkan teh hangat selagi ia mandi.

Akhirnya lagu "tik-tik-tik bunyi hujan" di ganti menjadi "pelangi-pelangi alangkah indahmu". Benar ya kebersamaan itu indah, apalagi berada dengan orang-orang tersayang dan terkasih. Sekarang nyanyinya,  "jangan takut akan gelap" jadi "jangan takut akan hujan, karena hujan melindungi tanah kita dari kekeringan."
 Di musim hujan ini, tetap jaga kesehatan dan kondisi badan ya kawan-kawan".